Lebanon | Legenda dan Air Mata | Kahlil Gibran

 Air Mata dari Lebanon

Baiklah pada kesempatan kali ini , saya akan menceritakan bagaimana kisah tentang Keadilan Emir yang diceritakan pada Buku Kahlil Gibran BAGIAN TIGA | Air Mata Lebanon, 285

Bagian Pertama 

jadi SANG Emir berjalan memasuki ruang pengadilan dan duduk di kursi tengah, di sebelah kanan dan kiri duduk orang-orang bijak, para tetua negeri itu. Para, pengawal, bersenjatakan pedang dan tombak, tegak penuh kewaspadaan, sementara orang-orang yang hadir pada ruang pengadilan untuk menyaksikan sidang itu membungkuk untuk menghormati Emir yang datang, yang matanya memancarkan kekuatan yang menggetarkan jiwa-jiwa mereka dan membuat takut hati-hati mereka. Akhirnya masa penyaksian lewat dan waktu keputusan tiba. Emir mengangkat tangannya dan memanggil, "Bawa para penjahat kehadapanku satu persatu dan jelaskan padaku kesalahan yang telah dilakukannya dan pelanggaran yang mereka lakukan.

"Pintu tahanan dibuka, menampakkan dinding-dinding suram yang didalamnya, seperti melihat tenggorokan binatang buas yang rakus. Dari dalam muncul gemertak suara belenggu dan rantai serta tangisan putus asa para tahanan. Kepala para penonton berpaling dan terulur seolah mereka hendak melihat mangsa kematian muncul dari kedalaman kubur.

Setelah beberapa saat, dua serdadu muncul dari penjara menuntun seorang pemuda, kedua tangannya dibelenggu. Wajahnya yang sedih dan tubuhnya yang sangat menderita mengisyaratkan sebuah semangat yang sangat tinggi dan hati yang berani. Mereka meletakkannya di tengah-tengah pengadilan dan mundur ke tengah kerumunan. Emir menatapnya sejenak,lalu bertanya, "Kejahatan apa yang telah dilakukan laki-laki yang berdiri di depan kita dengan kepala tengadah ini?" Salah seorang Hakim menjawab, "Ia seorang pembunuh. Kemarin ia menebas seorang pegamai Emir yang sedang menjalankan tugas penting keliling desa. Pedang yang berlumur darah ada di genggaman pembunuh ini ketika ia ditangkap. "Emir bangkit dari singgasananya dengan gusar, matanya menyala karena marah. Ia membentar dengan suara yang amat keras, "Kembalikan ia ke kegelapan penjara dan ikat badannya dengan belenggu yang berat. Esok ketika fajar tiba, penggal kepalanya dengan pedang, dan buang mayatnya ke hutan agar dimakan oleh burung bangkai dan binatang buas. "Anak muda itu digiring kembali ke dalam penjara, dan orang-orang melihatnya dengan rasa kasihan dan helaan nafas yang dalam, karena ia adalah anak muda di tengah musim semi kehidupan.

Penjahat yang kedua adalah seorang perempuan . Setelah mengamati perempuan itu dari ujung rambut hingga kaki, Emir berkata, "Pelanggaran apakah yang dilakukan perempuan ini? Ia berdiri dihadapanku penuh kengerian seperti sedang menghadapi mayat yang menakutkan. "Salah seorang serdadu menjawab ia adalah seorang perempuan pezina, kemarin malam suaminya mendapatkan ia sedang dalam pelukan kekasihnya. Emir menyuruh "Seret ia di atas karpet berduri, agar ia ingat ranjang yang ia nodai dengan kejahatannya.

Penjahat yang ketiga adalah seorang lelaki tua. Emir berkata "Apa kejahatan orang jorok yang berdiri bagai orang mati di antara orang-orang hidup ini?" Salah seorang prajurit menjawab, "Ia adalah seorang pencuri. Emir menatap dan menghardik, "Bawa masuk ke kedalaman kegelapan dan rantai ia dengan baja. Bila fajar tiba, seret ia ke pohon yang tinggi dan gantung antara langit dan bumi. 

Adakah kekuatan lain yang dapat mengenggam semua unsur dari kehidupan dan menyatukan dengan dirinya dalam kegembiraan, seperti lautan menyatukan semua arus dalam nyanyian kedalamannya? Adakah kekuatan yang bisa membawa pembunuh dan korbannya, pezina dan kekasihnya, pencuri dan barang curiannya ke depan pengadilan dengan cara yang lebih baik dan mulia daripada pengadila Emir?

Sekian , Terima kasih


Komentar

Postingan Populer